Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaHeadline NewsPemerintahanPendidikan

Terjang Gelombang Segara Anakan, Sekda Jateng Napak Tilas Pengabdian Guru Muchtar

102
×

Terjang Gelombang Segara Anakan, Sekda Jateng Napak Tilas Pengabdian Guru Muchtar

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Harianpemalang.id, Cilacap – Ada harga mahal yang harus dibayar untuk sebuah kecerdasan bangsa, dan Sekda Jateng Sumarno baru saja mencicipi sebagian kecil dari “ongkos” tersebut. Kamis (22/1), Sumarno melakukan aksi heroik dengan menyusuri jalur maut dari Dermaga Sleko menuju SMA Negeri 1 Kampung Laut, Cilacap, demi merasakan getirnya pengabdian seorang guru bernama Muchtar.

Advertisement
Example 300x600
Scroll kebawah untuk lihat konten

Muchtar bukanlah nama asing. Sosok guru ini viral setelah kisahnya yang bertaruh nyawa menembus daratan dan lautan selama tiga jam dari Purbalingga setiap pukul 04.00 WIB terungkap. Dedikasi yang dilakoni sejak 2008 itulah yang memantik nurani Sumarno untuk hadir langsung di sekolah terluar tersebut.”Saya tergetar saat mendengar langsung kisah Pak Muchtar di TVRI tahun lalu. Hari ini, saya ingin berdiri di tanah tempat beliau mengabdi,” tegas Sumarno di tengah deru angin laut Laguna Segara Anakan.

Menggunakan perahu compreng, Sumarno mengarungi perairan selama 2,5 jam. Tak sekadar duduk, ia bahkan sempat mengambil alih kemudi perahu, seolah ingin merasakan beban tanggung jawab para pengajar di sana. Setibanya di Dermaga Klaces pukul 08.30 WIB, perjalanan masih harus berlanjut dengan berjalan kaki menyusuri pemukiman yang kerap dikepung rob.

Di depan ratusan siswa, Sumarno menyampaikan pesan keras dan tajam: pendidikan adalah satu-satunya alat untuk meruntuhkan tembok kemiskinan. “Peradaban tidak dibangun di atas angan-angan, tapi di atas bangku sekolah. Pendidikan adalah kunci mutlak jika kita tak ingin terus menjadi penonton di negara sendiri,” ujarnya dengan nada bergetar.

Meski pemerintah telah melengkapi sarana transportasi perahu bagi guru, Sumarno tak menutup mata pada realita pahit di lapangan. Musuh terbesar di Kampung Laut bukan lagi akses, melainkan budaya masyarakat yang masih menomorsatukan mata pencaharian instan daripada pendidikan jangka panjang.”Gedung sudah kita bangun, perahu sudah kita siapkan. Sekarang PR terberatnya adalah memotivasi siswa agar tidak berhenti di tengah jalan. Jangan sampai masa depan anak-anak kita tenggelam oleh tuntutan ekonomi sesaat,” tandasnya.

Hebatnya, di tengah keterbatasan itu, SMAN 1 Kampung Laut justru melahirkan “mutiara”. Kepala Sekolah Muhammad Lutfi Khamdan mengungkapkan, dua siswanya sukses menembus final Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Astronomi dan Kimia. Prestasi ini seolah menjadi tamparan balik bahwa keterpencilan bukan penghalang kualitas.

Guna mendukung operasional sekolah, Sumarno menyerahkan bantuan dana Rp50 juta untuk pengurukan lahan terdampak rob dan Rp25 juta untuk renovasi masjid sekolah. Serah terima tas sekolah secara simbolis menjadi penutup kunjungan, sebuah pesan bahwa pemerintah hadir di setiap jengkal wilayah terluar Jawa Tengah. ( Joko Longkeyang).

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *