Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaHeadline NewsPemerintahPemerintahan

Bukan Sekadar Kuli, SDM Jateng Kini Dibidik Jadi Pimpinan di Jepang

85
×

Bukan Sekadar Kuli, SDM Jateng Kini Dibidik Jadi Pimpinan di Jepang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Harianpemalang.id,  Jakarta – Stereotipe tenaga kerja Indonesia yang hanya mengisi sektor operasional di luar negeri mulai diruntuhkan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) secara resmi menaikkan level kerja sama dengan Jepang, dari sekadar penyedia buruh menjadi pencetak calon manajer di perusahaan-perusahaan besar Negeri Sakura.

Lompatan besar ini terungkap dalam pertemuan krusial antara Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, dengan Gubernur Prefektur Kagawa, Ikeda Toyohito, di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (23/1). Kolaborasi ini tidak lagi bicara soal kuantitas, melainkan kualitas dan keberlanjutan karier SDM lokal di kancah internasional.”Pemerintah Kagawa mengakui keunggulan etos kerja kita. Mereka tidak ingin warga Jateng hanya bekerja sebentar lalu pulang, tapi ingin melatih mereka menjadi head manager. Ini pengakuan harga diri yang luar biasa bagi SDM kita,” tegas Taj Yasin yang akrab disapa Gus Yasin.

Advertisement
Example 300x600
Scroll kebawah untuk lihat konten

Kepercayaan Jepang bukan tanpa alasan. Berdasarkan data, arus migrasi pekerja Jateng ke Jepang tumbuh eksplosif hingga 52 persen, dari 3.760 orang pada 2024 menjadi 5.712 orang pada 2025. Tren ini menjadi bukti bahwa kompetensi lulusan vokasi Jateng kini selaras dengan kebutuhan industri berteknologi tinggi.

Pemprov Jateng sendiri mengandalkan “pasukan” 245 ribu lulusan SMK setiap tahunnya. Sektor manufaktur, konstruksi, hingga keperawatan lansia (kaigo) kini diselaraskan melalui kurikulum internasional dan sertifikasi kompetensi yang ketat.

Gubernur Kagawa, Ikeda Toyohito, memberikan apresiasi setinggi langit bagi 4.000 pekerja Indonesia yang kini menjadi tulang punggung ekonomi di wilayahnya. Sebagai bentuk timbal balik, Ikeda menjamin keamanan dan kenyamanan mereka, termasuk memberikan pelatihan bahasa Jepang secara gratis sejak dari tanah air.

Meski menyiapkan calon pemimpin di Jepang, Gus Yasin menegaskan bahwa diplomasi ini bersifat dua arah. Pemprov Jateng tetap agresif menarik modal dari Jepang agar masuk ke wilayah seperti Batang, Kendal, dan Semarang. Hingga 2025, investasi Jepang mencapai Rp24,216 triliun, menjadikannya kekuatan ekonomi terbesar ketiga di Jateng.”Kita permudah izin melalui OSS dan berbagai insentif pajak. Logikanya sederhana: jika industri Jepang ada di sini, masyarakat kita tidak perlu jauh-jauh merantau untuk mendapatkan kesejahteraan,” imbuhnya.

Senada dengan hal itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Syamsudin Isnaeni, mulai bergerak cepat di sektor hulu. Ia menekankan bahwa untuk menjadi “bos” di Jepang, kemampuan bahasa adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.”Lewat program Go Global, pelatihan bahasa Jepang di SMK akan diperkuat. Namun, kami sangat selektif. Harus ada komitmen kuat dari siswa dan dukungan penuh dari orang tua. Kita tidak hanya mengirim orang, kita mengirim duta bangsa yang punya masa depan,” tandas Syamsudin. *( Joko Longkeyang).

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *