Harianpemalang.id, Pemalang – Aroma tanah basah dan kabut tebal yang menyelimuti Dusun Sawangan, Desa Penakir, seolah menjadi saksi bisu atas duka yang menyelimuti lereng Gunung Slamet. Di tengah keriuhan kunjungan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, Sabtu (30/1/2026), sebuah noktah kepedulian hadir dari keluarga besar Bank Pemalang yang turun langsung membasuh luka para penyintas bencana.
Direktur Bank Pemalang, Novalia Jelitasari, tampak hadir di episentrum bencana di Kecamatan Pulosari. Kehadirannya bukan sekadar seremonial birokrasi, melainkan membawa misi kemanusiaan untuk memastikan bahwa detak jantung ekonomi dan sosial warga yang terdampak tidak berhenti berdenyut.”Kami datang bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai saudara. Dusun Sawangan dan Desa Penakir adalah bagian dari keluarga besar kami. Saat mereka terluka, kami pun merasakan pedih yang sama,” ungkap Novalia dengan nada penuh empati saat ditemui di lokasi bencana.
Dalam aksi kemanusiaan tersebut, Bank Pemalang menyalurkan paket sembako sebagai kebutuhan paling mendasar bagi warga yang akses ekonominya terganggu akibat musibah alam. Menariknya, penyaluran bantuan dilakukan dengan mekanisme yang tertib dan terukur. Bantuan diarahkan langsung ke Posko Utama Siaga Bencana di Kecamatan Pulosari.
Di sana, bantuan tersebut diterima langsung oleh petugas piket Basarnas. Langkah ini diambil guna memastikan bantuan terdistribusi secara adil dan merata kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, tanpa mengganggu jalannya evakuasi dan mitigasi yang sedang dilakukan petugas lapangan.
Novalia menegaskan bahwa aksi ini adalah panggilan nurani. Baginya, posisi Bank Pemalang sebagai lembaga keuangan daerah tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab moral terhadap kesejahteraan masyarakat, terutama di saat genting seperti sekarang.”Mengapa kami di sini? Jawabannya sederhana: untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang diuji musibah. Kami dari keluarga besar Bank Pemalang hanya bisa berharap agar bantuan ini mampu menjadi penyambung asa,” tambahnya.
Harapan besar pun digantungkan. Bukan sekadar bantuan logistik yang ingin diberikan, melainkan suntikan moral agar warga lereng Slamet segera bangkit, menata kembali kehidupan yang sempat porak-poranda, dan meyakini bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi ujian ini. ( Joko Longkeyang).











