BeritaHeadline NewsPemerintahan

Darurat Karhutla 2026, Kodam IV/Diponegoro Siagakan Pasukan Teritorial

×

Darurat Karhutla 2026, Kodam IV/Diponegoro Siagakan Pasukan Teritorial

Sebarkan artikel ini

Semarang, Harianpemalang.id— Puncak musim kemarau 2026 berubah menjadi ancaman serius bagi wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ratusan hektare lahan dan kawasan hutan dilaporkan hangus akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dalam beberapa pekan terakhir. Menyikapi darurat ekologis ini, Kodam IV/Diponegoro langsung mengambil langkah tegas dengan menyiagakan kekuatan teritorial berlapis dari tingkat markas komando hingga garda terdepan desa.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

​Berdasarkan data terkini hingga akhir Agustus 2026, situasi di lapangan kian mengkhawatirkan. Di Jawa Tengah saja, tercatat sebanyak 232 kejadian Karhutla yang menghanguskan sekitar 194 hektare lahan serta 213 hektare kawasan hutan. Kondisi serupa terjadi di wilayah DIY dengan 46 kejadian yang melahap hampir 46 hektare lahan. Bahkan, Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta menetapkan status Awas untuk seluruh wilayah DIY terhadap potensi Karhutla pada periode 23–29 Agustus 2026.

Mengapa Babinsa Menjadi Kunci Utama?

​Merespons gelombang titik panas (hotspot) yang terus bermunculan, Kodam IV/Diponegoro mengandalkan strategi deteksi dini berbasis kewilayahan. Siapa yang bergerak di garis depan? Jawabannya adalah para Babinsa (Bintara Pembina Desa) yang langsung berbaur dengan masyarakat.”Babinsa kami fungsikan sebagai mata dan telinga di tingkat desa. Mereka tidak hanya berpatroli menyisir lereng pegunungan, perkebunan, dan semak belukar yang kering, tetapi juga aktif memberikan edukasi persuasif kepada warga,” tulis laporan resmi Pendam IV/Diponegoro.

​Edukasi ini menjadi krusial mengingat sebagian besar Karhutla dipicu oleh aktivitas manusia yang tidak terkontrol, seperti kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar atau membuang puntung rokok serta sampah sembarangan di tengah cuaca ekstrem.

Sinergi Lintas Sektor Padamkan Api Sebelum Membesar

​Tidak berjalan sendiri, kekuatan militer ini disinergikan langsung dengan BPBD, Polri, Perhutani, relawan, serta Masyarakat Peduli Api (MPA). Pola penanganan terpadu telah diuji dan diterapkan di berbagai wilayah rawan seperti Pati, Brebes, Kendal, Blora, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, hingga Gunungkidul.

​Ketika kepulan asap terpantau, rantai komando langsung beroperasi secara berjenjang: Koramil bergerak cepat di tingkat kecamatan, sementara Kodim mengintegrasikan dukungan armada air dan logistik di tingkat kabupaten/kota. Pendekatan ini memastikan proses isolasi titik api, pemadaman awal, hingga pendinginan pascakebakaran bisa dilakukan secepat kilat sebelum api meluas dan membahayakan permukiman warga.

​Dengan pengerahan pasukan teritorial yang masif ini, Kodam IV/Diponegoro memastikan bahwa negara hadir untuk melindungi keselamatan masyarakat serta kelestarian lingkungan dari amukan si jago merah sepanjang musim kemarau 2026. (Pendam IV/Diponegoro). ( Joko Longkeyang).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *