Harianpemalang.id, Pemalang – Impian memiliki hunian yang aman dan nyaman kini bukan lagi angan-angan bagi Sucipto. Seorang buruh harian asal Desa Kebojongan, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, ini akhirnya bisa bernapas lega setelah menerima kunci rumah baru dari Organisasi Shiddiqiyyah, Senin (31/8/2026).

Penyerahan kunci rumah ini berlangsung penuh haru di tengah rangkaian tasyakuran Maulid Nabi Muhammad SAW, hari ulang tahun Dhilal Berkat Rochmat Alloh (Dhibra) ke-26, santunan nasional tingkat nasional ke-22, serta tasyakuran HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Disaksikan langsung oleh Kepala Desa Kebojongan Nuridin, jajaran Forkopimcam Comal, dan puluhan warga setempat, momen tersebut menjadi bukti nyata hadirnya kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Konsistensi Program Kemanusiaan Shiddiqiyyah
Di balik kebahagiaan Sucipto, tersimpan komitmen panjang yang digerakkan oleh Organisasi Shiddiqiyyah melalui lembaga Dhibra. Ketua Shiddiqiyyah Perwakilan Daerah Kabupaten Pemalang, Ahmad Ivan Yulies Oktora, menjelaskan bahwa program Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS) merupakan wujud rasa syukur yang konsisten dijalankan setiap tahun.”Setiap momentum kemerdekaan bangsa Indonesia tanggal 17 itu mendirikan satu unit rumah. Sumpah Pemuda satu unit dan Hari Pahlawan satu unit. Jadi, dalam satu tahun ada tiga unit yang dibangun,” ungkap Ivan.
Tak tanggung-tanggung, anggaran yang digelontorkan untuk setiap unit rumah berkisar antara Rp80 juta hingga Rp100 juta. Besaran dana tersebut disesuaikan secara cermat dengan tingkat kebutuhan pembangunan bagi penerima manfaat.
Seleksi Ketat dan Tepat Sasaran
Dalam menentukan siapa yang berhak menerima bantuan, Shiddiqiyyah menerapkan mekanisme yang sangat selektif dan transparan. Barometer utama yang digunakan adalah kondisi ekonomi, tingkat kelayakan tempat tinggal, serta jumlah tanggungan keluarga.”Yang diutamakan adalah fakir miskin, kondisi tempat tinggal yang memprihatinkan, dan jumlah tanggungan. Itu yang menjadi barometer untuk dipilih dan dimusyawarahkan bersama agar benar-benar tepat sasaran,” jelas Ivan.
Lebih lanjut, ia berharap gerakan sosial ini tidak hanya menjadi simbol syukur atas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tetapi juga mampu menjadi pemantik kepedulian bagi elemen bangsa lainnya.”Kalau bisa jangan hanya Shiddiqiyyah, tetapi bisa menginspirasi dan menular ke semua elemen bangsa. Saya kira itu yang menjadi obat buat bangsa saat ini,” tegasnya.
“Nol Rupiah,” Bukti Ketulusan Shiddiqiyyah
Sementara itu, Sucipto tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Ia menegaskan bahwa seluruh proses pembangunan rumah impiannya tersebut tidak membebani dirinya sama sekali secara finansial.”Sama sekali tidak mengeluarkan biaya, nol rupiah,” ucap Sucipto penuh syukur.
Apresiasi turut disampaikan oleh Kepala Desa Kebojongan, Nuridin. Ia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Thariqah Shiddiqiyyah yang telah meringankan beban warganya. Nuridin juga mengungkapkan bahwa di desanya saat ini masih ada hampir 50 unit rumah yang masuk kategori tidak layak huni. Pemerintah desa berencana untuk bersinergi dengan Pemkab Pemalang serta mengoptimalkan Dana Desa guna menangani persoalan tersebut secara bertahap.
Melalui program RSKILHS, Shiddiqiyyah kembali membuktikan bahwa kepedulian nyata dan gotong royong mampu menghadirkan senyum serta harapan baru bagi warga kurang mampu di Pemalang.( Joko Longkeyang).











