PEMALANG, Harianpemalang.id — Siapa sangka keindahan yang dulunya hanya bisa dinikmati di negeri jauh, kini tumbuh dan mekar di tepi jalan Desa Wanarata, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Deretan pohon berwarna merah muda dan putih kini memanjakan mata siapa saja yang melintas, seolah menyambut tamu dengan senyuman bunga yang tak kalah indah dari musim sakura di Jepang.

Itu bukan sakura asli dari Negeri Sakura. Itulah Tabebuya, tanaman asal Brasil yang kerap dijuluki “Sakura Tropis” atau “Sakura Brasil” karena kemiripan rona dan bentuk bunganya, meski secara ilmiah keduanya tidak berkerabat. Kini, pohon-pohon itu telah menjelma menjadi kebanggaan sekaligus identitas baru Desa Wanarata.
Semuanya bermula dari percakapan sederhana pada tahun 2021. Dalam wawancara yang pada Minggu, 4 Oktober 2026, Kepala Desa Wanarata, Elok Rakhmawati, mengenang momen saat ia menyampaikan harapannya kepada Ketua Karang Taruna kala itu, Untung Sudiyanto, S.Pd.”Mas Untung, saya ingin Desa Wanarata lebih indah. Setidaknya ada tanaman yang cantik dan berbeda dari desa lain, seperti di Negeri Jepang,” ungkap Elok, mengulang kata-katanya yang kemudian mengubah wajah desanya.
Tanpa menunda, Untung Sudianto menyebutkan nama Tabebuya. Pemerintah Desa segera menyusun proposal. Ketika bibit tiba, tak ada yang berdiam diri. Pemdes bersama Karang Taruna turun ke lapangan, bahu-membahu menanam di sepanjang jalan dan ruang terbuka desa. Lima tahun dirawat dengan kesabaran, dan kini puncaknya tiba — bunga mekar serentak, hampir menutupi dedaunan, mengubah jalan desa menjadi lorong bunga yang menyejukkan pandangan.
Tabebuya dipilih bukan sekadar cantik. Pohon ini tetap hijau dan mekar meski musim kemarau melanda, daunnya menyerap karbon dioksida sekaligus menurunkan suhu lingkungan, serta akarnya yang berjenis tunggang aman ditanam dekat bangunan tanpa merusak fondasi maupun perkerasan jalan.”Desa Wanarata kini punya musim mekarnya sendiri. Bedanya, keindahan ini bisa dinikmati semua orang tanpa harus membeli tiket ke luar negeri,” ujar Elok dengan tatapan bangga.
Anggota DPRD Pemalang Fraksi Gerindra yang juga putri asli Desa Wanarata, Ida Mulyani, menyambut keindahan ini dengan apresiasi sekaligus harapan yang lebih luas,”Apa yang diwujudkan Ibu Kepala Desa Elok Rakhmawati adalah ide sederhana namun luar biasa, layak mendapat apresiasi setinggi-tingginya. Keindahan ini akan jauh lebih memukau jika penanaman Tabebuya dilakukan secara berkesinambungan mulai dari batas masuk desa hingga ke pusat pemukiman. Pemandangan itu pasti akan viral, mendatangkan pengunjung, dan berdampak nyata bagi pertumbuhan UMKM warga sebagai destinasi wisata baru. kini Tabebuya sudah menjadi tren di media sosial. Banyak orang datang berfoto, membagikan keindahannya, dan nama Desa Wanarata kian dikenal, bahkan berpotensi mendunia. Kami siap turut membantu mewujudkan pengembangan lebih lanjut,” tegas Ida.
Kisah ini mengingatkan: perubahan tak butuh anggaran raksasa untuk bermula. Cukup satu impian tulus, diiringi kebersamaan, kesabaran, dan cinta pada lingkungan. Satu bibit ditanam, ratusan tangan merawatnya, dan kini ribuan mata menikmati hasilnya.
Apakah di tempat Anda juga Tabebuya sedang mekar? Mari rawat apa yang kita miliki, karena keindahan sejati tak harus dicari ke tempat jauh — ia bisa tumbuh di tanah tempat kita berpijak.( Ahmad Joko )





