Harianpemalang.id, SEMARANG – Cuaca ekstrem yang masih membayangi wilayah Jawa Tengah memaksa pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan ekstra. Sepanjang Januari 2026, tercatat sebanyak 45 peristiwa bencana melanda berbagai titik di wilayah ini, mulai dari banjir bandang, tanah longsor, hingga kebakaran.
Menyikapi kondisi tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengimbau masyarakat untuk tidak abai terhadap potensi risiko hidrometeorologi. Terlebih, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi intensitas hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang masih akan berlangsung hingga 9 Februari mendatang.”Kami memastikan seluruh warga yang terdampak mendapatkan bantuan. Prioritas saat ini adalah menjamin tim di lapangan bekerja tanpa kendala teknis agar distribusi logistik tidak terhambat,” tegas Sumarno usai menghadiri Rapat Paripurna di Gedung Berlian, Senin (2/2/2026).
Bencana yang terjadi tidak hanya mengakibatkan kerusakan fisik pada 308.108 rumah dan fasilitas umum, namun juga menyisakan luka psikis bagi lebih dari sembilan ribu pengungsi. Sumarno menyebut, Pemprov Jateng kini rutin memberikan layanan trauma healing bagi anak-anak dan ibu-ibu di posko pengungsian, salah satunya yang berada di Kantor Kecamatan Pulosari, Pemalang.
Meski fokus utama masih pada penyelamatan nyawa, pemerintah telah menyusun skema rehabilitasi infrastruktur pascabencana. “Begitu kondisi stabil dan genangan surut, tim akan segera masuk ke tahap perbaikan fisik,” imbuhnya.
Respons Cepat Lewat Kanal Pengaduan. Sumarno menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam melaporkan kondisi kedaruratan di lingkungan masing-masing. Pemerintah telah menyiapkan kanal pengaduan cepat agar Tim Reaksi Cepat (TRC) dapat segera diterjunkan ke titik lokasi.
Masyarakat dapat menghubungi nomor layanan darurat 112, WhatsApp Pusdalops di 08813809409, atau Dinas Sosial Jateng melalui nomor (024) 8454962.
Di sisi lain, Prakirawan BMKG Ahmad Yani Semarang, Rany Puspita, mengingatkan warga untuk menjauhi area rawan seperti bantaran sungai dan lereng yang rentan longsor. Ia juga meminta masyarakat menghindari aktivitas di bawah pohon besar atau papan reklame saat terjadi angin kencang.**( Joko Longkeyang)






