Harianpemalang.id, Pemalang – Sebuah revolusi senyap sedang berlangsung di lahan pertanian Desa Bodeh, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Sabtu (17/1/2026), puluhan petani dari Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen, menempuh perjalanan jauh demi menjawab satu tantangan besar: kian langkanya tenaga kerja tanam di perdesaan.
Langkah ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah “Studi Tiru” yang diinisiasi secara mandiri. Menariknya, jembatan informasi yang membawa mereka ke sini bukan lagi penyuluhan konvensional, melainkan algoritma media sosial.”Kami mengenal inovasi Ponco Tani ini dari konten di TikTok dan YouTube,” ujar Ketua KTNA Kecamatan Ngrampal, Agus Widodo. Berbekal informasi digital tersebut, sebanyak 50 orang yang terdiri dari pengurus KTNA, gabungan kelompok tani (gapoktan), hingga Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) berangkat dengan pendanaan swadaya.

Di lokasi Studi Tiru Ponco Tani, para petani diperkenalkan pada sistem tanam padi modern menggunakan benih kering. Inti dari inovasi ini adalah penggunaan mesin tanam “Ponco Tani” yang dirancang khusus untuk memangkas ketergantungan pada tenaga kerja manusia yang semakin sulit dicari.
Ponco Widodo, sang inovator sekaligus pemateri, menyebut bahwa teknologi ini lahir dari rahim pengalaman. Sebagai petani yang telah berkecimpung selama 20 tahun, ia memahami betul getirnya mencari buruh tanam saat musim tiba.”Materi yang saya sampaikan adalah murni aplikasi dari dua dekade menjadi petani. Kami menciptakan strategi bagaimana membuat bibit padi kering yang sangat menguntungkan para petani, serta menciptakan dua versi mesin Ponco Tani modern, yakni varian 4 baris dan 6 baris jarum tanam. Prinsipnya sederhana: efisien dan mudah dioperasikan oleh siapa saja,” jelas Ponco.
Kunjungan ini tak hanya menjadi ajang tukar ilmu, tetapi juga menjadi sinyal kuat dukungan akar rumput terhadap visi besar pemerintah. Agus Widodo menegaskan bahwa modernisasi ini adalah kunci untuk mendukung program swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.”Peningkatan ilmu di bidang pertanian secara otomatis akan mengatrol ekonomi petani. Ini adalah kontribusi nyata kami untuk ketahanan pangan nasional,” tambah Agus.
Koordinator PPL Kecamatan Ngrampal, Sapto Wibowo, yang turut mendampingi rombongan, mengapresiasi antusiasme para petani. Menurutnya, kesediaan petani untuk belajar teknologi baru adalah modal utama transformasi sektor agraris.
Fenomena ini rupanya telah menjadi magnet nasional. Selain dari Sragen, lokasi studi tiru di Desa Bodeh pada hari yang sama juga dipadati oleh perwakilan petani dari Blora, Kendal, Grobogan, Sidorejo, Indramayu, bahkan hingga Provinsi Lampung. Di atas tanah berlumpur Pemalang, para petani ini sedang merajut asa untuk kedaulatan pangan yang lebih modern dan mandiri.( Joko Longkeyang)











