Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaHeadline NewsPemerintahan

Sinergi MBG: 119 Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi di Jateng Gandeng BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih

289
×

Sinergi MBG: 119 Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi di Jateng Gandeng BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Harianpemalang.id, Semarang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Tengah kini tidak hanya berfokus pada peningkatan nutrisi, tetapi juga bertransformasi menjadi penggerak roda ekonomi perdesaan. Hingga saat ini, sebanyak 119 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut resmi menjalin kemitraan dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

​Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa skema ini merupakan strategi jitu untuk menciptakan efek ekonomi berganda (multiplier effect) di 35 kabupaten/kota. Menurutnya, keterlibatan lembaga desa memastikan perputaran modal tetap berada di tingkat lokal.”Kita tidak hanya bicara soal makan siang, tapi tentang investasi SDM dan penguatan wirausaha desa. Konektivitas antara program pusat dan koperasi daerah harus berjalan linear agar saling menguatkan,” ujar Luthfi saat Rapat Koordinasi MBG di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Selasa (3/3/2026).

Advertisement
Example 300x600
Scroll kebawah untuk lihat konten

​Dari total unit yang ada, 53 SPPG telah bermitra dengan BUMDes dan 64 lainnya melalui KDKMP. Kerja sama ini mencakup penyediaan bahan pangan segar seperti telur, daging ayam, sayuran, hingga bumbu-bumbu yang dipasok langsung oleh petani dan peternak dari desa sekitar.

​Data menunjukkan perkembangan signifikan Koperasi Merah Putih di Jawa Tengah. Dari 8.523 desa, sebanyak 6.217 unit atau 73 persen telah beroperasi dengan modal kolektif mencapai Rp34,6 miliar. Bahkan, Jawa Tengah menyumbang 598 gedung KDKMP, atau sekitar 35 persen dari total ketersediaan nasional.

​Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang turut hadir dalam kesempatan tersebut, menginstruksikan agar SPPG memprioritaskan hasil bumi setempat ketimbang mengambil dari distributor besar di luar daerah.​”Ekonomi rakyat di desa akan hidup jika SPPG melibatkan produsen lokal. Koperasi harus hadir sebagai agregator yang menyerap hasil panen petani dan nelayan saat harga pasar turun,” tegas Zulkifli.

​Dengan target produksi padi 2026 sebesar 10,55 juta ton gabah kering giling (GKG), Jawa Tengah optimis mampu menyokong keberlanjutan program MBG sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional dari level akar rumput.**( Joko Longkeyang).

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *