SUKOHARJO, Harianpemalang.id – Langkah taktis diambil Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) demi mengamankan pasokan pangan nasional di tengah ancaman cuaca ekstrem. Guna merealisasikan target produksi padi sebesar 10,5 juta ton pada tahun 2026, pemetaan wilayah rawan kekeringan dan penguatan infrastruktur pertanian kini menjadi prioritas utama di seluruh kabupaten dan kota.
Hingga memasuki pertengahan tahun ini, tepatnya pada periode Januari-Juli 2026, performa sektor pertanian di Jawa Tengah menunjukkan tren yang positif. Volume produksi padi di provinsi ini diproyeksikan mampu menyentuh angka 6,69 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka tersebut mencerminkan capaian sebesar 63,43 persen dari total target daerah yang dipatok pada angka 10,56 juta ton GKG.
Informasi krusial mengenai ketahanan pangan tersebut dipaparkan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Penjelasan ini disampaikan di sela-sela agenda Panen Raya Padi yang berlangsung di lahan pertanian Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, pada Rabu (24/6/2026).
Dalam kunjungan kerja tersebut, Ahmad Luthfi turun langsung ke sawah untuk mengoperasikan mesin pemanen combine harvester. Tidak hanya meninjau proses pengolahan lahan pascapanen, orang nomor satu di Jateng ini juga menggelar dialog terbuka guna menyerap aspirasi dari para petani serta pemangku kepentingan sektor agraris.”Saat ini, pasokan dari Jawa Tengah sudah berhasil menyumbang 6,69 juta ton GKG. Kita memiliki tanggung jawab besar untuk memenuhi target nasional sebesar 10,5 juta ton di akhir tahun nanti,” ujar Ahmad Luthfi dengan optimistis.
Ahmad Luthfi menegaskan bahwa momentum panen raya kali ini tidak boleh hanya dilihat sebagai bentuk seremonial rasa syukur. Lebih dari itu, agenda ini harus dijadikan pijakan strategis untuk merumuskan langkah mitigasi yang konkret dalam menghadapi musim kemarau panjang yang diprediksi akan melanda kawasan tersebut.
Oleh karena itu, ia menginstruksikan seluruh jajaran bupati dan wali kota di Jawa Tengah untuk bergerak cepat melakukan pemetaan area pertanian yang rentan terdampak kekeringan. Menurutnya, langkah antisipasi yang terukur merupakan kunci utama agar target swasembada pangan tidak meleset.”Tantangan besar kita ke depan adalah anomali cuaca dan kemarau yang panjang. Saya meminta seluruh kepala daerah segera melakukan mapping wilayah terdampak kekeringan agar produktivitas lahan kita tetap terjaga,” tuturnya secara tegas.
Sebagai bentuk solusi nyata di lapangan, Pemprov Jateng telah merancang sejumlah program kedaruratan. Strategi yang disiapkan meliputi akselerasi proyek pipanisasi, pembuatan sumur pantau, optimalisasi pemanfaatan sumber air baku, hingga pendistribusian mesin pompa air yang disesuaikan dengan tingkat kerawanan wilayah.
Di sisi lain, sesi dialog bersama kelompok tani memunculkan berbagai keluhan dan kebutuhan mendasar. Para petani mengharapkan adanya jaminan pasokan air untuk menghadapi masa musim tanam ketiga (MT III), penambahan jaringan listrik untuk sumur sawah, bantuan alat mesin pertanian (alsintan), hingga pembenahan akses jalan usaha tani serta saluran irigasi yang rusak.
Merespons aduan tersebut, Ahmad Luthfi berjanji akan memaksimalkan alokasi bantuan sarana prasarana. Untuk menyiasati keterbatasan alat panen modern, pemprov akan menerapkan sistem giliran penggunaan combine harvester milik daerah, sekaligus mengajukan tambahan kuota alsintan ke Kementerian Pertanian.
Ia juga menambahkan bahwa Jawa Tengah telah mengamankan pasokan sekitar 17 ribu unit pompa air dari pemerintah pusat yang siap disalurkan ke zona-zona kritis. “Prinsip utamanya adalah bagaimana air bisa mengalir sampai ke petak sawah dan kebutuhan mendasar petani terpenuhi tanpa hambatan,” imbuh Luthfi.
Kabar baik juga datang dari otoritas pengelola sumber daya air. Ketua Tim Pelaksanaan Urusan Pengendalian Pelaksanaan Sungai Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Rizhali Triutomi Sahan, memastikan bahwa cadangan air irigasi untuk wilayah Bendosari dan sekitarnya berada pada posisi aman hingga Oktober 2026.”Kami memastikan tidak ada kebijakan penutupan pintu air dalam waktu dekat, sehingga pasokan air untuk musim tanam ketiga dipastikan tetap konstan,” kata Rizhali.
Apresiasi senada diungkapkan oleh Bupati Sukoharjo, Etik Suryani. Ia memuji konsistensi para petani yang menjadi benteng pertahanan pangan daerah. Sinergi antara pemerintah kabupaten dan provinsi diharapkan mampu menyelesaikan kendala infrastruktur pertanian secara menyeluruh.( Joko Longkeyang).











