SEMARANG, Harianpemalang.id – Hari pertama masuk sekolah di Jawa Tengah diwarnai momen penuh haru sekaligus optimisme. Impian ratusan anak dari keluarga kurang mampu untuk mengenyam pendidikan menengah akhirnya terselamatkan lewat Program Sekolah Kemitraan yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Salah satu kisah menyentuh datang dari Rafa Fidianto. Remaja yang merupakan putra seorang pengemudi ojek ini sempat dirundung kecemasan karena gagal menembus seleksi sekolah negeri akibat kendala nilai. Namun takdir berkata lain, langkahnya untuk terus belajar tidak terhenti begitu saja.
Melalui program kolaborasi pemprov, Rafa kini resmi menjadi siswa di SMA Laboratorium UPGRIS, Kota Semarang.
Pada hari pertama sekolah yang jatuh pada Senin (13/7/2026), Rafa berkesempatan berbincang langsung dengan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Di hadapan sang gubernur, anak sulung dari dua bersaudara ini mengungkapkan cita-cita besarnya.”Sempat bingung karena tidak masuk sekolah negeri. Sekarang bersyukur sekali bisa sekolah di sini, banyak teman baru. Cita-cita saya ingin jadi TNI supaya bisa membanggakan orang tua,” ujar Rafa penuh semangat.
Kisah Haru Anak Buruh Tani: Harapan Baru untuk Mengubah Nasib
Cerita serupa dirasakan oleh Noval Surya Saputra. Didampingi ibunya, Mutiari Setyawati, Noval melangkah penuh percaya diri ke sekolah barunya. Bagi Mutiari, program sekolah gratis ini adalah jawaban atas doa-doanya di tengah badai kehidupan pasca-perpisahan keluarga.”Alhamdulillah, kami sangat terbantu. Saya selalu sampaikan ke anak, jangan sampai minder dengan keadaan,” tutur Mutiari dengan mata berkaca-kaca.
Ketangguhan juga terpancar dari seorang ibu yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Dengan upah yang hanya berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari, ia awalnya merasa mustahil bisa membiayai sekolah anak ketiganya yang kini tumbuh tanpa sosok ayah.”Alhamdulillah, anak saya masih bisa sekolah. Harapan saya hanya satu, kehidupan dia nanti bisa lebih ringan dan lebih baik dari ibunya,” ucap buruh tani tersebut lirih.
Ahmad Luthfi: Kemiskinan Tidak Boleh Menghentikan Cita-Cita
Mendengar langsung lika-liku perjuangan warganya, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa negara harus hadir sebagai pelindung dan pembuka jalan bagi masa depan anak bangsa. Ia memberikan motivasi membakar semangat agar para siswa tidak berkecil hati dengan latar belakang ekonomi mereka.”Boleh kita punya latar belakang yang berbeda, tetapi masa depan kalian yang menentukan sendiri. Ora usah berkecil hati, ora usah minder. Semangat!” tegas Luthfi dengan dialek khasnya yang akrab.
Ia menambahkan bahwa tidak boleh ada anak di Jawa Tengah yang putus sekolah hanya karena terkendala biaya. Program Sekolah Kemitraan ini dirancang khusus untuk merangkul anak-anak dari latar belakang rentan, mulai dari anak pengemudi ojek, pedagang angkringan, buruh, hingga anak yatim piatu.”Ini adalah bentuk tanggung jawab nyata dari negara untuk menjamin hak pendidikan mereka,” lanjutnya.
Perluasan Kuota Sekolah Kemitraan Tahun 2026
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperluas jangkauan program ini. Pada Tahun Ajaran 2026/2027, Pemprov Jateng resmi menggandeng 139 sekolah swasta, yang terdiri atas 56 SMA dan 83 SMK.
Angka penerimaan total sebanyak 3.663 siswa ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 2.390 siswa. Khusus di Kota Semarang, terdapat 51 siswa yang terserap melalui skema ini, tersebar di SMA Laboratorium UPGRIS, SMK Bina Nusantara, dan SMK Ibu Kartini.
Tak hanya menggratiskan biaya pendidikan, dalam kunjungan tersebut Pemprov Jateng bersama Baznas Jawa Tengah juga menyalurkan bantuan berupa perlengkapan sekolah, sepatu, serta paket sembako untuk meringankan beban para orang tua murid.
Wanti-Wanti Gubernur: MPLS Harus Menyenangkan, Stop Perundungan!
Di akhir kunjungannya, Ahmad Luthfi memberikan instruksi tegas kepada jajaran kepala sekolah dan guru agar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berjalan dengan prinsip humanis dan ramah anak.”Jangan ada lagi perpeloncoan. Stop perundungan! Sekolah tidak boleh menakutkan, melainkan harus menjadi ruang yang aman dan menyenangkan agar anak-anak betah belajar,” cetusnya.
Ia berpesan agar momentum emas ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para siswa sebagai jembatan emas untuk memutus mata rantai kemiskinan keluarga.”Jadilah anak yang berbakti, gantungkan cita-cita setinggi langit, dan ubah derajat keluarga kalian menjadi lebih baik,” pungkas Luthfi.











