PEMALANG, Harianpemalang id — Fenomena gelar sarjana yang tak lagi menjamin kemudahan mendapat pekerjaan menjadi sorotan utama dalam Kuliah Umum Penguatan Ekosistem Pendidikan di Kampus Institut Teknologi Business (ITB) Adias Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Jumat (18/9/2026). Ratusan mahasiswa dari berbagai semester tampak antusias menyimak paparan tajam dari narasumber Kemendiktisaintek Republik Indonesia, Dr. M. Hasan Chabibie, S.T., M.Si.
Acara dibuka secara resmi oleh Rektor ITB Adias Pemalang, Dr. H. Noor Roosyadi, S.E., M.M., yang menekankan visi perguruan tinggi masa depan sebagai Global Talent Platform, bukan sekadar lembaga pencetak ijazah.
Dalam orasinya, Hasan Chabibie memberikan sentilan keras terkait realita dunia kerja saat ini. Ia mengungkapkan pengalaman saat berdiskusi dengan para manajer HRD di Kawasan Industri Terpadu Batam (KITB). Menurutnya, banyak perusahaan multinasional justru lebih memilih mempekerjakan lulusan SMK yang mau belajar ketimbang lulusan sarjana yang enggan beradaptasi karena merasa sudah pintar.”Gelar sarjana tidak akan dihargai jika tidak ada daya juang, kemampuan adaptasi, dan penguasaan teknologi. Jangan sampai merasa pintar tapi malas belajar hal baru,” tegas Hasan di hadapan peserta.
Hasan menjelaskan bahwa peta persaingan sangat ketat. Mahasiswa harus bersaing dengan 2,1 juta mahasiswa baru, 10 juta mahasiswa aktif, serta jutaan pengangguran terdidik. Oleh karena itu, reshaping atau pengasahan ulang kemampuan menjadi prioritas mutlak. Mahasiswa lintas disiplin—baik Ekonomi, Akuntansi, maupun Sistem Informasi—wajib mengawinkan ilmu dasar mereka dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) seperti Python dan Copilot.
Tak hanya aspek teknis, Hasan juga menyentil gaya hidup mahasiswa yang rentan terjebak konsumerisme dan aktivitas tidak produktif. Ia mengajak mahasiswa memaksimalkan fungsi smartphone untuk bekerja secara digital (work digitally), bukan sekadar sarana bergosip di grup percakapan atau menonton konten media sosial.
”Mulai semester lima, anak Ekonomi maupun Sistem Informasi harus sudah membangun portofolio dan personal branding. Jangan tunggu semester akhir baru bingung mau kerja di mana,” tambahnya.
Sebagai penutup, ia merincikan lima pilar penting untuk menjadi global talent: penguasaan teknologi AI, kemampuan berpikir analitis, etika kerja digital, komunikasi yang persuasif, serta inisiatif memecahkan masalah (problem solver). Dengan modal tersebut, lulusan ITB Adias Pemalang diyakini mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.( Ahmad Joko).











