Headline News

Bara Muncul Kembali di Gunung Lawu, Luthfi: Jangan Pulang, Sisir Sampai Tuntas!

×

Bara Muncul Kembali di Gunung Lawu, Luthfi: Jangan Pulang, Sisir Sampai Tuntas!

Sebarkan artikel ini

KARANGANYAR, Harianpemalang.id — Kabar gembira ternyata harus ditunda. Hanya berselang sehari setelah kebakaran hutan dan lahan di Gunung Lawu dinyatakan padam pada Minggu, 25 Oktober 2026, Senin pagi petugas pemantau kembali menemukan satu titik api baru yang berkobar di kawasan atas Gondosuli, Kabupaten Karanganyar. Penemuan ini membuat status siaga tetap dinaikkan ke tingkat tertinggi — tidak ada satu pun personel yang dipulangkan. Semua diminta tetap di pos masing-masing, menyisir setiap jengkal kawasan, memastikan tak ada bara yang tertinggal.

Helikopter Siaga, Satu Sorti Lagi Menanti Cuaca

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, segera meninjau Pos Sakura Hills, Tawangmangu, dan memimpin rapat terbatas bersama Bupati Karanganyar, Rober Christanto, BPBD, serta para relawan, Senin siang.”Saya sudah berkoordinasi dengan Bupati dan BPBD. Helikopter BNPB dari Lanud Adi Soemarmo disiapkan untuk satu sorti pengeboman air lagi. Pelaksanaannya tergantung kondisi cuaca di atas sana. Titik api ini harus dipastikan benar-benar mati, agar tidak memicu titik-titik lain,” ujar Luthfi dengan tegas.

Sebelumnya, helikopter telah menerbangkan 34 misi pengeboman air, menjatuhkan sekitar 68.000 liter air ke titik-titik panas. Namun, Gunung Lawu menyimpan tantangan yang tak kasat mata.

Bara Bersembunyi di Balik Ilalang Tebal 30 Sentimeter

Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Sugiharto, menjelaskan mengapa api di Gunung Lawu begitu sulit dimusnahkan hingga ke akarnya. Sebagian besar kawasan tertutup tumpukan ilalang kering yang tebalnya mencapai 30 sentimeter — mirip karakteristik lahan gambut. Api di permukaan bisa padam dalam sekejap, tetapi bara bisa tetap hidup di bawahnya, menunggu angin kencang untuk kembali mengamuk.”Itulah kenapa api bisa muncul lagi dari tempat yang seharusnya sudah aman. Bara bersembunyi di bawah lapisan ilalang itu. Kami sudah mendapat cairan khusus untuk menjangkaunya, dan penyisiran harus teliti, tidak boleh ada yang terlewat,” jelas Sugiharto.

Pencegahan: Peran Warga dan Sanksi Tegas

Sambil memadamkan sisa api, Luthfi juga mempertegas pesan pencegahan. Masyarakat diminta berperan aktif menjaga kawasan hutan. Jangan membakar sampah di sekitar hutan, jangan membuang puntung rokok sembarangan. Kebakaran yang disengaja atau akibat kelalaian bukan sekadar kesalahan — itu pelanggaran hukum yang dapat diproses secara pidana. Penyebab pasti kebakaran masih diselidiki kepolisian, apakah akibat aktivitas manusia atau faktor alam lainnya.

Embung di Pegunungan: Solusi yang Selama Ini Terlupakan

Luthfi juga menyoroti akar masalah yang lebih mendasar. Ia memerintahkan Dinas PUPR Provinsi, Pemkab Karanganyar, dan Perhutani segera merancang pembangunan embung, tandon air, serta saluran air di kawasan rawan kebakaran. “Geografis kita berbukit dan bergunung. Saat kemarau panjang, sumber air jauh di bawah. Kita tidak bisa selalu menunggu helikopter datang saat api sudah membesar. Air cadangan harus ada di lokasi sejak awal. Itu bukan kemewahan, tapi kebutuhan mendesak untuk mitigasi bencana,” tegasnya.

Gunung Lawu mengajarkan kita satu hal penting: api yang terlihat padam belum tentu benar-benar hilang. Kewaspadaan tidak boleh berakhir begitu saja. Penyisiran menyeluruh, keterlibatan masyarakat dalam pengawasan, dan pembangunan infrastruktur air di kawasan rawan — itulah kunci agar cerita kebakaran berulang tidak terus terulang di Gunung Lawu. ( Ahmad Joko).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *