TEMANGGUNG, Harianpemalang.id — Ketika api mulai menjalar di lereng Gunung Sumbing, tak ada alat canggih yang seketika hadir. Yang ada hanyalah warga, pendaki, sebatang kayu di tangan, dan tekad yang tak kalah besar dari si jago merah yang sedang mengamuk. Inilah kisah heroik yang jarang tersorot — tentang manusia biasa yang berdiri di garis terdepan, bukan karena tugas, tapi karena rumah mereka ada di sana.
Berbekal Kayu di Tengah Angin Kencang
Jumari, atau akrab disapa Petruk, adalah Wakil Ketua Basecamp Pendakian Bimawari, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung. Saat ditemui di posko pascakebakaran, Minggu, 25 Oktober 2026, ia menceritakan bagaimana semuanya bermula dari sebuah kabar di Senin sore.”Kebakaran terdeteksi sekitar pukul 16.00 dari arah Wonosobo. Saat api mulai menyeberang ke sisi Temanggung, kami tahu tak bisa diam,” kenangnya.
Langkah pertama: pastikan semua pendaki aman turun. Setelah itu, amankan fasilitas jalur pendakian. Baru kemudian turun ke medan bertempur. Hari demi hari, mereka bergerak dari satu titik ke titik lain — Batursari, Banaran, Cepit, Glapansari — bergabung dengan tim-tim lain, hingga akhirnya pada Sabtu, 24 Oktober 2026, kabar gembira datang: api padam 100 persen. “Angin di atas sana sangat kencang, itu musuh terbesar kami. Titik api ada di pinggir jurang, kami harus memutar jauh. Semuanya dikerjakan secara manual, pakai kayu saja. Tidak ada yang lain,” cerita Petruk tenang.
Ia tak lupa kebakaran besar tahun 2019. Pengalaman itu membantu mereka kali ini, tapi ia berharap tak harus terus mengandalkan keberanian semata di masa depan.
Mata Air yang Menghilang dan Embung yang Dinanti Delapan Tahun
Kepala Desa Wonosari, Agus Parmuji, menyoroti dampak yang sering terlupakan: kebakaran tak hanya gundulkan hutan, tapi juga keringkan sumber kehidupan warga. “Setiap kebakaran, debit mata air kita turun. Butuh dua hingga tiga tahun untuk pulih. Saat kemarau, kami kesulitan air minum. Padahal di musim itulah api paling rawan datang,” ujarnya.
Ia mengusulkan pembangunan embung di kawasan Perhutani — bukan sekadar untuk saat kebakaran terjadi, melainkan menjaga keseimbangan air sepanjang tahun. Jalur penyelamatan yang lebih layak juga sangat dibutuhkan agar tim bisa menjangkau titik api dengan cepat. Di desanya, warga telah membangun sekitar 200 sumur resapan secara swadaya.
Drone: Agar Tak Selalu Bertarung dalam Kegelapan
Muhadi, warga Desa Wonosari, menyampaikan harapan sederhana namun penting: peralatan dasar yang dikelola masyarakat setempat.”Kalau ada drone, titik api bisa terlihat sejak awal. Tak harus menunggu membesar dulu. Alat itu juga berguna kalau ada pendaki tersesat. Kami tak minta yang mewah, cukup alat yang membantu kami melihat dan bergerak lebih cepat,” katanya tulus.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang mendengarkan langsung aspirasi warga di Basecamp Bimawari, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana harus menyeluruh — dari air bersih, reboisasi, hingga penguatan kesiapsiagaan berbasis data yang akurat. “Yang kita evaluasi adalah upaya pascabencana. Di antaranya, kebutuhan dasar masyarakat harus terpenuhi, seperti air bersih, juga reboisasi. Semua harus berbasis data yang faktual dan akurat,” ujar Gubernur.
Api memang telah padam di Gunung Sumbing. Namun cerita di baliknya menyisakan satu pesan penting: memadamkan api adalah kemenangan hari ini, tetapi memastikan ia tak datang lagi adalah tanggung jawab kita semua besok. Dan untuk itu, para relawan dan warga di lereng Sumbing tak butuh pujian. Mereka butuh dukungan nyata( Ahmad Joko).





