Harianpemalang.id, Pemalang – Sosok maestro muda, Ki Dalang Aditya Nugroho, benar-benar menjadi magnet luar biasa dalam pagelaran wayang golek di Desa Loning, Kecamatan Petarukan, Sabtu (9/4/2026) malam. Kehadirannya berhasil memecahkan rekor kunjungan warga yang memadati halaman Balai Desa hingga tak tersisa celah.
Membawakan lakon inspiratif “Syamsudin Munggah Kaji”, Ki Aditya membuktikan bahwa seni tradisional masih menjadi primadona di hati masyarakat, bahkan di tengah gempuran tren modern.
Sentuhan Modern Sang Maestro Muda
Di balik layar, Ki Dalang Aditya Nugroho mengungkapkan rahasia di balik riuhnya penonton malam itu. Menurutnya, inovasi adalah kunci agar wayang tetap relevan bagi generasi muda.”Saya mencoba memadukan pakem klasik dengan sentuhan modern, seperti tata lampu (lighting) yang dinamis dan sistem suara yang mumpuni. Tujuannya agar penonton, terutama anak muda, tidak merasa bosan,” ujar Ki Dalang Aditya Nugroho yang warga Asli Desa Kebojongan, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
Baginya, lakon ‘Syamsudin Munggah Kaji’ bukan sekadar hiburan. “Ini adalah refleksi perjalanan spiritual dan pengorbanan. Saya ingin penonton pulang membawa kesan mendalam, bukan hanya sekadar senang,” tambahnya.
Kades Wahyudin: Warga Loning Cinta Budaya
Antusiasme yang meledak ini pun membuat Kepala Desa Loning, Wahyudin, merasa bangga. Ia tampak semringah melihat warga dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, bersatu menikmati pertunjukan.”Saya sangat terharu. Ribuan warga hadir, bahkan banyak yang rela berdiri di barisan depan. Ini bukti nyata bahwa masyarakat Loning sangat mencintai warisan budaya kita, khususnya wayang golek,” tutur Wahyudin dengan nada optimis.
Ia menilai, kesuksesan Ki Aditya malam ini menjadi sinyal positif bagi potensi wisata budaya di Desa Loning. “Tahun depan kami berencana mengemas acara ini lebih besar lagi sebagai agenda rutin tahunan,” tegasnya.
Pesan Moral di Balik Layar Golek
Sepanjang pertunjukan, Ki Aditya berhasil menjaga emosi penonton. Melalui karakter Syamsudin, ia menyisipkan pesan tajam yang relevan dengan kehidupan masa kini: tentang keseimbangan antara mengejar urusan duniawi dan kewajiban spiritual.
Gaya sabetan wayang yang lincah dipadukan dengan dialog yang humoris namun berbobot, membuat halaman Balai Desa Loning riuh dengan gelak tawa sekaligus keheningan yang khidmat saat adegan haru berlangsung.
Acara Sedekah Bumi malam itu pun ditutup dengan pesan kuat dari Ki Dalang Aditya Nugroho. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga “cermin hidup” yang ada dalam wayang, agar identitas bangsa tetap lestari bagi anak cucu di masa depan.( Joko Longkeyang).





