Harianpemalang.id, Pemalang – Pemerintah Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah memperketat pengawasan terhadap aktivitas vulkanik Gunung Slamet. Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, menginstruksikan seluruh jajaran terkait untuk mematangkan manajemen krisis menyusul perubahan pola aktivitas gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut.
Dalam pertemuan lintas sektor di Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Slamet, Desa Gambuhan, Rabu (29/4/2026), terungkap bahwa siklus lima tahunan yang biasanya terjadi sejak 2014 kini mengalami anomali. Hal ini memicu pemerintah daerah untuk mengambil langkah preventif lebih dini guna melindungi warga.
Perubahan Radius Aman
Kepala Pelaksana BPBD Pemalang, Agus Ikmaludin, memaparkan bahwa berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) per 14 April 2026, zona bahaya telah mengalami penyesuaian.”Radius aman bagi aktivitas masyarakat yang semula berada di jarak 2 kilometer, kini resmi diperluas menjadi 3 kilometer dari kawah utama,” ungkap Agus Ikmal. Ia menambahkan bahwa meskipun sudah 12 tahun tidak ada erupsi besar, pemetaan jalur evakuasi alternatif tetap menjadi prioritas utama.
Fokus pada Aksesibilitas Jalur
Kesiapan infrastruktur menjadi poin krusial dalam mitigasi kali ini. Kepala DPUPR Joko Tri Asmoro melalui Yudhi Kuswoyo selaku Kepala UPJI Wilayah III DPUPR Kabupaten Pemalang, menyatakan bahwa koordinasi teknis telah dilakukan untuk menjamin kelancaran arus pengungsian.”Kami memastikan jalan kabupaten maupun jalan desa siap digunakan. Dalam skenario darurat, seluruh jalur ini diproyeksikan dapat berfungsi optimal pada 30 menit pertama masa evakuasi,” jelas Yudhi.
Pesan Bupati: Hindari Kepanikan
Bupati Anom Widiyantoro menekankan bahwa kunci keberhasilan mitigasi adalah pada ketenangan warga dan ketepatan instruksi di lapangan. Beliau meminta BPBD segera melaksanakan simulasi fisik yang realistis.”Simulasi harus mencakup kondisi siang dan malam. Tanpa panduan dan latihan yang rutin, masyarakat akan sulit diarahkan saat situasi genting. Jalur-jalur evakuasi harus dipastikan bisa dimasuki dan dipahami oleh warga,” tegasnya.
Saat ini, Gunung Slamet masih bertahan pada Status Level II (Waspada). Pos Pengamatan Gambuhan terus memantau pergerakan magma yang berdampak pada lima wilayah administratif, yakni Pemalang, Brebes, Tegal, Banyumas, dan Purbalingga. Koordinasi antara Asisten Sekda, Kepala OPD, serta para Kepala Desa di wilayah Pulosari pun terus diperkuat untuk menghadapi segala kemungkinan.**( Joko Longkeyang ).











