PEMALANG, Harianpemalang.id — Hantaman gagal panen atau puso sering kali menjadi momok paling menakutkan bagi para petani, tak jarang berujung pada jeratan utang yang mencekik. Menanggapi persoalan klasik ini, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bergerak cepat dengan menegaskan bahwa petani korban gagal panen haram hukumnya mencari modal pelarian ke pinjaman online (pinjol) maupun rentenir.

Pernyataan tegas tersebut disampaikan langsung oleh Ahmad Luthfi di hadapan para pengurus kelompok tani usai mengikuti kegiatan panen raya padi di Desa Kedungbanjar, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, pada Kamis, 3 September 2026. Menurutnya, negara wajib hadir memberikan rasa aman dan jaring pengaman agar petani tidak jatuh ke dalam lingkaran setan bunga tinggi.”Kalau gagal panen, tidak boleh pinjam rentenir dan pinjol. Gagal panen sudah ada Jamkrida, asuransinya ada,” tegas Ahmad Luthfi di hadapan para petani.
Siapkan Asuransi 10 Ribu Hektare dan Bantuan Benih
Gubernur menjelaskan, ancaman puso membuat petani terancam kehilangan modal operasional untuk musim tanam berikutnya, mulai dari pembelian bibit, pupuk, hingga biaya olah tanah. Sebagai solusi nyata, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan program asuransi pertanian khusus untuk mengantisipasi kerugian tersebut.
Tidak tanggung-tanggung, Pemprov Jateng mengalokasikan perlindungan asuransi untuk 10 ribu hektare lahan pertanian yang mengalami gagal panen, dengan penjaminan penuh melalui Jamkrida. Selain itu, Ahmad Luthfi juga menginstruksikan para petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) agar lebih proaktif membimbing petani memahami alur dan mekanisme klaim asuransi.
Sebagai pelengkap perlindungan, Pemprov Jateng berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian turut menyiagakan skema bantuan benih bagi petani terdampak setelah melalui proses verifikasi lapangan yang ketat.
Intervensi Sektor Hulu dan Perbaikan Irigasi
Selain memberikan perlindungan finansial pasca-panen, strategi jangka panjang turut digenjot dari sektor hulu guna menekan potensi kekeringan. Mengingat Jawa Tengah memiliki ribuan hektare sawah tadah hujan maupun sawah irigasi, pemerintah mengoptimalkan jaringan irigasi tersier serta memperluas pemanfaatan irigasi perpompaan dan perpipaan di wilayah yang rawan krisis air.
Dalam sesi dialog interaktif yang hangat tersebut, para petani Pemalang juga secara terbuka menyampaikan berbagai kendala harian di lapangan, seperti pendangkalan aliran sungai, kondisi jalan usaha tani yang rusak, hingga kebutuhan pasokan benih unggul. Menanggapi hal tersebut, Ahmad Luthfi memastikan bahwa normalisasi saluran air akan segera diakomodasi melalui penganggaran tahun 2027 tanpa harus terhalang oleh sekat birokrasi kewenangan antarlembaga.
Dengan kombinasi jaminan asuransi, pasokan benih gratis, serta perbaikan infrastruktur air yang masif, Pemprov Jateng bertekad memastikan bahwa musibah gagal panen tidak berubah menjadi krisis finansial yang menjerumuskan petani ke pusaran utang.( Ahmad Joko)











