Headline News

Jateng Siapkan Jurus Zero Bullying Usai Tragedi Pemalang

×

Jateng Siapkan Jurus Zero Bullying Usai Tragedi Pemalang

Sebarkan artikel ini

SEMARANG, Harianpemalang.id — Tragedi perundungan yang merenggut nyawa seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Pemalang memicu langkah tegas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menginstruksikan seluruh lingkungan sekolah di wilayahnya untuk menerapkan prinsip zero bullying tanpa toleransi.

​Langkah ini diambil guna memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

​”Saya sudah perintahkan Dinas Pendidikan, jadi di tempat kita seluruh sekolah harus zero bullying dengan mengedepankan edukasi yang kita lakukan,” tegas Ahmad Luthfi usai menghadiri kegiatan di Universitas Diponegoro, Semarang, Rabu, 7 Oktober 2026.

​Menanggapi arahan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Sadimin, mengungkapkan bahwa berbagai program pencegahan sebenarnya telah berjalan di tingkat SMA, SMK, dan SLB. Pihaknya kini berfokus mengoptimalkan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) serta gerakan Sekolah Ramah Anak melalui evaluasi berkala.

​Meskipun pembinaan tingkat SD dan SMP berada di bawah wewenang pemerintah kabupaten dan kota, Pemprov Jateng memastikan tidak membiarkan kasus Pemalang berlalu tanpa pendampingan. Sinergi lintas instansi terus diperkuat untuk memantau penanganan kasus tersebut secara menyeluruh.

​”Soal sanksi memang kewenangan kabupaten atau kota. Namun, kami tetap berkolaborasi dan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Pemalang. Prinsip utamanya adalah menjaga anak-anak kita bersama-sama,” ujar Sadimin.

​Ia memaparkan pentingnya kehadiran aktif tenaga pendidik di sekolah, terutama pada jam-jam rawan seperti waktu istirahat dan jam kepulangan siswa. Sekolah diminta memanfaatkan CCTV maupun sistem piket guru untuk memastikan area lingkungan sekolah tetap aman terpantau.

​Lingkungan belajar yang ramah dan aman dinilai menjadi kunci utama dalam menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan, sehingga siswa dapat berkembang dan berprestasi tanpa rasa takut.

​Peristiwa ini menjadi perhatian publik setelah A (7), murid kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Pemalang, mengembuskan napas terakhir di RSUD dr. M. Ashari pada Rabu, 30 September 2026. Korban yang sempat menjalani perawatan medis sejak pertengahan September diduga mengalami tindak perundungan oleh seniornya. Hingga saat ini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan intensif untuk mengusut tuntas peristiwa tersebut.( Ahmad Joko).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *