SEMARANG, Emsatunews.co.id– Pemerintah merespons kekhawatiran masyarakat terkait rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan proyek energi bersih ini ditata cermat tanpa mengorbankan situs cagar budaya maupun kelestarian alam.
Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Priatin Hadi Wijaya, menyatakan bahwa titik pengeboran PLTP belum ditetapkan karena masih melalui tahap kajian geologi, geofisika, dan geokimia. Ia menegaskan, keberadaan situs bersejarah seperti Candi Gedong Songo menjadi perhatian utama agar tidak terdampak aktivitas eksplorasi.
”Pengembangan panas bumi di Dieng membuktikan keberadaan infrastruktur dapat berjalan berdampingan dengan Candi Arjuna. Konsep serupa kami terapkan di Gunung Ungaran,” kata Priatin dalam dialog publik di Kampus FISIP Universitas Diponegoro, Semarang, Kamis (17/9).
Executive Vice President Management Geothermal PT PLN, John Yudi Steve Rembet, menambahkan bahwa lokasi PLTP diproyeksikan berada pada radius lebih dari dua kilometer dari area candi. Jarak tersebut dinilai aman untuk menjaga struktur bangunan bersejarah sekaligus kelangsungan sektor pariwisata daerah.
Namun, sikap hati-hati disampaikan Direktur Walhi Jawa Tengah, Fahmi Bastian. Ia meminta pemerintah mengkaji ulang efisiensi nilai investasi Rp5,7 triliun untuk kapasitas 55 MW, serta membandingkannya dengan opsi energi terbarukan lain seperti PLTS. Walhi mengingatkan pentingnya antisipasi atas perubahan tutupan lahan hutan dan risiko bencana teknologis.
”Geothermal memang ramah emisi, tetapi tidak bebas dari potensi risiko lingkungan. Dampak tutupan lahan dan penggunaan air harus dihitung secara matang,” lugas Fahmi.
Melalui sinergi studi teknis dan pengawasan kritis masyarakat, proyek geothermal ini diharapkan mampu menghadirkan solusi energi tanpa mengikis nilai sejarah dan kelestarian ekosistem lokal.( Ahmad Joko).





