Harianpemalang.id, Pemalang – Gelombang kritik sosial melalui seni akan segera melanda Kabupaten Demak. Kelompok Teater Lingkar bersiap menyuguhkan pementasan fenomenal bertajuk “Rojo Tikus”. Karya ini menjadi sorotan publik lantaran melibatkan tokoh budayawan nasional, Sujiwo Tejo, dalam proses kreatifnya.
Pergelaran seni yang memadukan unsur tradisional dan modern ini akan dihelat pada Sabtu, 9 Mei 2026. Masyarakat dapat menyaksikannya secara gratis di Stadion Pancasila, Demak, mulai pukul 19.00 WIB.
Pakeliran Multidimensi yang Unik
Pementasan ini mengusung konsep “Pakeliran Multidimensi”. Menurut Humas Teater Lingkar, Ario Bimo Gesit, pertunjukan tersebut merupakan peleburan dari berbagai elemen seni, mulai dari teater, tari, hingga tradisi pedalangan.”Kami menggabungkan instrumen musik diatonis dan pentatonis untuk menciptakan atmosfer yang magis namun tetap relevan dengan zaman sekarang,” ungkap Ario pada Kamis (23/4/2026).
Menariknya, pertunjukan ini dipimpin oleh Sindhunata Gesit Widiharto yang berperan sebagai “sutradalang”—sosok yang mengarahkan sekaligus menjadi dalang dalam satu panggung. Proyek seni ini juga mendapat apresiasi dan dukungan resmi dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Sentilan “Tikus Berdasi”
Lakon “Rojo Tikus” bukan sekadar tontonan biasa. Ceritanya berpusat pada Tuan Wirog Bawono, seorang penguasa dari Negeri Sahara yang membangun dinasti melalui praktik kotor. Sosok ini menjadi personifikasi dari fenomena “tikus berdasi” yang melahirkan era kelam bernama “Orde Tikus”.
Alur cerita memuncak ketika Wirog Bawono dihantui keinginan untuk bertobat. Namun, langkahnya menuju jalan lurus dihadang oleh istrinya sendiri, Queen Milly Cherry, serta para pengikut setianya yang enggan kehilangan kemewahan hasil korupsi.
Perang Batin dan Moral
Dalam tidurnya, Wirog terjebak dalam pertempuran spiritual. Ia bertemu bayang-bayang mendiang ibunya yang memberikan wejangan suci, sekaligus berhadapan dengan sosok Kakek Jinada, leluhur yang haus darah dan terus membujuknya agar tetap serakah.
Pementasan ini diharapkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang refleksi bagi penonton tentang integritas dan kepemimpinan. Apakah seorang penguasa korup memiliki kesempatan kedua untuk bijaksana? Jawabannya akan tersaji dalam harmoni kritik dan seni di panggung “Rojo Tikus”. **( Joko Longkeyang ).





